Jumat, 14 Januari 2011
SUFYAN BIN ‘UYAINAH Rahimahullah
{kunikahi Dia karena Agamanya}
Orang alim ini di lahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan syawal.dan ajal menjemputnya pada hari sabtu,1 Rajab 198 H.nasab lengkap nya ,
Sufyan bin ‘uyainah bin abi ‘imran al kufi.dia di kenal dengan sebutan abu Muhammad
Ayah nya seorang pegawai pada masa kholid bin abdillah al Qasri. Tatkala di berhentikan dari jabatan gubernur iraq dan digantikan oleh yusuf bin umar ats tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pda masa pemerintahan khalid,sehingga mereka berlarian untuk meyembuyikan diri.’uyainah,ayah sufyan kecil,melarikan diri sampai ke kota mekkah dan akhirnya memutuskan berdomisili disana.
Ketika ia menapak usia lima belas tahun, ayah ku memanggil ,seraya berpesan: “wahai,sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan,supaya engkau termasuk orang-orang Yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang allah mengetehui, bahwa keadaanmu berlawanan dengan itu .sebab,tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang .kecuali ia akan berkata kejeleken kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah .nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan alih kan prasangka baikku kepadamu kepada prasangka lain.dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama kecuali orang-orang yang mentaati mereka “.
Mendengar nasihat ayahnya ini sufyan berkata dalam hati:”sejak itu,aku menjadikan pesan ayah sebagai arah kompasku,berjalan bersamanya,tidak menyimpang dari nya”.
Begitulah yang ia jalani .sejak usia dini ,Ulama besar ini telah menyibukan diri pada pendalaman ilmu din.tepat nya pada tahun 119 H
Ibnu ,uyainah mengisahkan tentang dirinya:”Aku keluar menuju mesjid dan aku melihat halaqah-halaqah(majelis ilmu)yang ada..bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua ,maka aku menghampirinya”.
Dia menceritakan:”aku duduk di majlis ilmu ibnu syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.
Salah salah satu yang menunjukan keberuntungannya,sebanyak delapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai,misalnya,’Amr bin Dinar,az Zuhri,Muhammad Bin Munkadir, al A’masy,sulaiman at Tamimi,Humaid ath Thawil.
Tentang kekuatan hapalannya,ia berkata,”aku tidak tidak pernah menulis sesuatu,kecuali sudah aku hapal sebelum aku menuliskannya”.
Tak pelak,berkat pergaulan nya dengan ulama-ulama besar,telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh ,luas ilmunya dan mendalam.ia menjadi narasumber dalam berbagai permasalah dan tempat curahan isi hati.
Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan:”suatu hari,ada seorang lelaki mendatangi sufyan dengan berkata:”wahai, aba Muhammad(yang dimaksud adalah sufyan)aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku,aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah di matanya”.
Maka sufyan menggeleng-gelengkan kepala heran,dan kemudian berujar:’mungkin..,
Keadaan itu muncul karena engkau menikahinya untuk meraih kehormatan?”
Lelaki itu pun mengakuinya:”ya,betul wahai aba Muhammad”.
Sufyan lalu berpesan:”Barang siapa pergi karena mencari kehormatan,niscaya akan di uji dengan kehinaan .Barangsiapa mengerjakan sesutu lantaran dorongan harta,niscaya akan di uji dengan kefakiran..barangsiapa bergerak karena dorongan din,niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya”.
Berikutnya,sufyan mulai berkisah:
“kami adalah empat bersaudara,Muhammad,imran,ibrahim dan aku sendiri.muhammad adalah anak sulung,imran anak bungsu.sedangkan aku berada di tengah-tengah.
Tatkala Muhammad ingin menikah,ia menginginkan kemulian nasab.maka iamenikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya .kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan .
Sedangkan imran,(saat menikah )ingin mendapatkan harta,maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya.Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan.keluarga wanita mengaambil seluruh yang dimilikinya ,tidak menyisakan sedikitpun.
Akupun merenungkan nasib keduanya,sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku aku pun berdiskusi dengannya,aku menceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku ia mengingatkanku dengan sebuah hadits Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah.
Hadits Yahya bin ja’dah yang di maksud,yaitu sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam :
“Wanita dinikahi karena empat perkara:karena hartanya,status sosialnya,kecantikannya dan dinnya,carilah wanita yang beragama,niscaya tanganmu yang akan beruntung “
Sedangkan hadits ‘Aisyah ,Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya.”
Maka, aku memutuskan untuk memilih untuk diriku(wanita yang)memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.Allh menghimpun bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.
Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya,tidak sedikit untaian hikmah dari sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Kholik Allah subhanahu wa ta’ala.
Sufyan bin ‘uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’,diapun menjelaskan.wara’adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk beluk wara’,sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara,padahal tidak demikian , menurut kami,sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim,itu lebih afdhal dan lebih wara’ di bandingkan lelaki yang jahil lagi diam.
Sufyan bin ‘Uyainahjuga memiliki hikmah yang menunjukan kerdalaman ilmunya.Dia menyatakan,permisalan ilmu adalah bagaikan negri kufur atas negeri islam,apabila menganut islam meninggalkan jihad,niscaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil islam,jika orang-orang meninggalkan ilmu,maka mereka menjadi manusia-manusia yang bodoh.
Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui.dia berkata:tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebeneran dan kejelekan ,tetapi,orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya “
Semoga allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan mendapatkan nya di surganya yang tertinggi.
Maroji’:
*Tahdzibul kamal fi Asma-I ar Rijal(3/223-228) karya al hafizh jamaluddin abul hajja yusuf al mizzi,tahqiq basyyar awwad ma’ruf,muassasah ar Risalah ,cetakan 1,tahun 1418H-1998M.
*Majalah as Sunnah,Edisi 10/tahun IX/1426H/2005M. hal 12 (baituna).
0 komentar:
Posting Komentar